Observatorium Bosscha

tugu2

Observatorium Boscha merupakan salah satu tempat peneropongan bintang tertua di Indonesia (dulunya bernama Bosscha Sterrenwacht ). Lokasinya berada di Lembang, Jawa Barat, sekitar 15 km di bagian utara Kota Bandung. Tempat ini berdiri di atas tanah seluas 6 hektar, berada di atas ketinggian 1310 mdpa atau pada ketinggian 630 meter dari Plato Bandung. Untuk mencapai Observatorium Bosscha, bisa diakses melalui pusat Kota Bandung menuju ke arah Lembang yang dapat ditempuh dengan waktu ±30 menit. Di jalan raya Bandung-Lembang sebelum pertigaan arah Cisarua, arahkan kendaraan ke kanan menaiki bukit yang menjadi lokasi observatorium.   

Observatorium-Bosscha-Bandung   

Observartorium Boscha di bangun oleh Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereeniging (NISV) atau Perhimpunan Bintang Hindia-Belanda. Pada rapat pertama NISV, diputuskan bahwa akan dibangun sebuah observatorium di Indonesia demi memajukan Ilmu Astronomi di Hindia-Belanda. Dan pada rapat itulah, Karel Albert Rudolf Bosscha bersedia menjadi penyandang dana utama dan berjanji akan memberikan bantuan pembelian teropong bintang. Karel Albert Rudolf Bosscha adalah seorang tuan tanah di perkebunan teh Malabar. Observatorium Bosscha kemudian menjadi bagian dari ITB. Dan sejak saat itu, Bosscha difungsikan sebagai lembaga penelitian dan pendidikan formal Astronomi di Indonesia. Pendirian Observatorium Bosscha di Lembang pada dekade 1920an dapat dilihat dalam konteks merembesnya ilmu pengetahuan modern keluar dari Eropa dan pelaksanaan riset ilmu alam dalam situasi kolonial.

Terdapat 5 buah teleskop besar di dalam Observatorium Bosscha, diantaranya :

Teleskop Refraktor Ganda Zeiss : Teleskop untuk mengamati bintang ganda visual, mengukur fotometri gerhana bintang, mengamati citra kawah bulan, mengamati planet, mengamati oposisi planet Mars, Saturnus, Jupiter dan juga untuk mengamati detail komet terang serta benda langit lainnya.

bosca

Teleskop Schimidt Bima Sakti : Teleskop yang mempelajari struktur galaksi Bima Sakti, mempelajari spectrum bintang, mengamati asteroid, supernova, Nova untuk menentukan terang dan komposisi kimiawinya, dan untuk memotret objek langit. Alat bantu extra-teleskop adalah Wedga Sensitometer, untuk menera kehitaman skala terang bintang dan alat perekam film.

Salah-satu-teropong-di-Observatorium-Bosscha

Teleskop Refraktor Bamberg : Biasa digunakan untuk menera terang bintang, menentukan skala jarak, mengukur fotometri gerhana bintang, mengamati citra kawah bulan, pengamatan matahari dan untuk mengamati benda langit lainnya. Teleskop ini dilengkapi dengan fotoelektrik-fotometer yang berfungsi untuk mendapatkan skala terangb bintang dari intensitas cahaya listrik yang ditimbulkan.

teleskop-refraktor-bamberg-2

Teleskop Cassegrain GOTO : Dengan menggunakan teleskop ini, objek dapat langsung diamati dengan memasukkan data posisi objek tersebut. Kemudian data hasil pengamatan akan dimasukkan ke media penyimpanan data secara langsung. Teropong ini juga dapat digunakan untuk mengukur kuat cahaya bintang dan pengamatan spectrum bintang. Teleskop ini dilengkapi dengan spektograf dan fotoelektrik-fotometer.

teleskop-cassegrain-goto-2

Teleskop Refraktor Unitron : Biasanya teleskop ini biasa digunakan untuk melakukan pengamatan hilal, pengamatan gerhana bulan dan gerhana matahari, serta untuk pengamatan benda-benda langit lainnya.

UNITRON

Pada tahun 2004, Observatorium Bosscha dinyatakan sebagai Benda Cagar Budaya oleh pemerintah. Oleh karena itu, keberadaan Observatorium Bosscha dilindungi oleh UU No. 2/1992, tentang Benda Cagar Budaya. Selanjutnya, pada tahun 2008, Pemerintah juga menetapkan Observatorium Bosscha sebagai salah satu Objek Vital Nasional yang harus diamankan. Pentingnya Bosscha disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya karena Bosscha merupakan satu-satunya observatorium terbesar dari Wilayah Jepang sampai India. Tak hanya itu, letak Bosscha juga membantu pengamatan langit selatan yang minim fasilitas pengamatan bintang.

tiket-masuk-bosscha-bandung

Namun seiring perkembangan jaman Observatorium Bosscha memiliki Kendala yang dihadapi yaitu kondisi di sekitar Observatorium Bosscha dianggap tidak layak untuk mengadakan pengamatan. Hal ini diakibatkan oleh perkembangan pemukiman di daerah Lembang dan kawasan Bandung Utara yang tumbuh laju pesat sehingga banyak daerah atau kawasan yang dahulunya rimbun pepohonan tertutup menjadi area pemukiman, villa ataupun daerah pertanian yang bersifat komersial besar-besaran. Akibatnya banyak intensitas cahaya dari kawasan pemukiman yang menyebabkan terganggunya penelitian atau kegiatan peneropongan yang seharusnya membutuhkan intensitas cahaya lingkungan yang minimal. Dengan demikian observatorium yang pernah dikatakan sebagai observatorium satu-satunya di kawasan khatulistiwa ini menjadi terancam keberadaannya.

Untuk anda yang ingin mengunjungi anda dapat datang di hari :

Selasa – Kamis (khusus rombongan sekolah/institusi)

  • Sesi I : 09.00
  • Sesi II : 11.00
  • Sesi III : 13.00

Jumat (khusus rombongan sekolah/institusi)

  • Sesi I : 09.00
  • Sesi II : 13.00

Sabtu (khusus keluarga/perorangan)

  • Sesi I : 09.00
  • Sesi II : 11.00
  • Sesi III : 13.00

 

NO COMMENTS